Selasa, 01 Desember 2015

LAPORAN HASIL OBSERVASI Literasi Sains



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu kunci sukses menghadapi tantangan 21 adalah “melek” sains (sains literasy) yaitu kemampuan seseorang dalam memahami, mengkomunikasikan, serta mengaplikasikan, konsep biologi dalam kehidupan nyata. Literasi sains (sciencetificliteracy) kini menjadi tuntutan untuk dikuasi oleh setiap individu baik dalam kehidupan sehari-haro maupun dalam dunia pekerjaan individu yang melek sains dapat menggunakan informasi ilmiah yang dimilikinya untuk mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari serta menghasilkan produk-produk ilmiah yang bermanfaat. Di bidang pekerjaan yang menuntut keterampilan-keterampilan tingkat tinggi, memerlukan orang-orang yang mampu belajar, bernalar, berfikir kreatif, membut keputusan dan memecahkan masalah. Oleh karenanya, agar mampu survive berkompetensi dalam menghadapi peluang dan tantangan global dimasa depan, setiap individu dituntut memiliki literasi sains yang memadai mencakup pengetahuan tentang sains keterampilan proses sains, dalam sikap ilmiah.

Upaya perbaikan kulitas pembelajaran tingkat sekolah perlu didukung informasi yang akurat tentang sejauh mana capaian literasi sains, siswa ditinjau dari aspek-aspeknya. Oleh karenany uji literasi sains perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana capaian literasi sains siswa ditinjau dari aspek-aspek literasi sains.

Kajian teori sesuai dengan hakikatnya, sains dipahami sebagai tiga aspek yakni proses, produk, sikap dan teknologi (Carin & Evans, 2005). Proses dalam sains mengandung arti cara atau aktivitas ilmiah untuk emndeskripsikan fenomena alam hingga diperoleh produk sains berupa fakta, prinsip hukum, atau teori. Melalui metode ilmiah dapat dikembangkan sikap sebagaimana ilmuwan bekerja (sikap ilmiah) seperti : kejujuran, ketelitian, kesbaran, dll.  

B.     Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pembelajaran yang dilakukan guru dikelas 3A SDS YPKS 1 Cilegon?
2.      Apakah guru kelas 3A SDS YPKS 1 Cilegon menggunakan model atau metode yang tepat?
3.      Pendekatan apa yang digunakan guru dalam pembelajaran?
4.      Bagaimana guru meningkatkan lifeskill?
5.      Bagaimana kendala yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran?

C.    Tujuan Observasi

Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diketahui tujuan dari penelitian ini adalah:
1.      Mengetahui proses pembelajaran yang dilakukan guru kelas 3A di SDS YPKS 1 Cilegon
2.      Menganalisis model atau metode yang digunakan guru kelas 3A di SDS YPKS 1 Cilegon
3.      Menganalisis pendekatan yang digunakan guru dalam pembelajaran
4.      Menganalisis cara guru dalam meningkatkan lifeskill
5.      Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran


D.    Manfaat
1.      Sebagai bahan masukan bagi guru, dalam mengelola dan meningkatkan kedisiplinan dalam proses belajar agar pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai lebih baik.
2.      Dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dengan terjun langsung kelapangan dan memberikan pengalaman belajar.
3.      Untuk bahan pertimbangan bagi peserta didik dalam menilai kinerja guru.



  

BAB II
LANDASAN TEORI

Literasi sains (scinence literacy) berasal dari gabungan dua kata latin yaitu literatus artinya ditandai dengan huruf,melek huruf, atau berpendidikan dan scientia, yang artinya memiliki pengetahuan.
Literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan sebagai kemampuan menggunakan  pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan denga alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia (Firman, 2007:2). Literasi IPA (scientific literacy) didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaaan dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta untuk memahami alam semesta dan membuat keputusan dari perubaha yang terjadi karena aktivitas manusia (OECD, 2003). Literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat moderen yang sangat bergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan.
PISA 2000 dan 2003 menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni kompetensi/ proses sains, konten/pengetahuan sains dan konteks aplikasi sains. Pada PISA 2006 dimensi literasi sains dikembangkan menjadi empat dimensi, tambahannya yaitu aspek sikap siswa akan sains (OECD, 2007).

1. Aspek konteks
PISA menilai pengetahuan sains relevan dengan kurikulum pendidikan sains di negara partisipan tanpa membatasi diri pada aspek-aspek umum kurikulum nasional tiap negara. Penilaian PISA dibingkai dalam situasi kehidupan umum yang lebih luas dan tidak terbatas pada kehidupan di sekolah saja. Butir-butir soal pada penilaian PISA berfokus pada situasi yang terkait pada diri individu, keluarga dan kelompok individu (personal), terkait pada komunitas (social), serta terkait pada kehidupan lintas negara (global). Konteks PISA mencakup bidang-bidang aplikasi sains dalam seting personal, sosial dan global, yaitu: (1) Kesehatan; (2) sumber daya alam; (3) mutu lingkungan; (4) bahaya; (5) perkembangan mutakhir sains dan teknologi.

2. Aspek konten
Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci dari sains yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang diperoleh melalui sumber-sumber informasi lain yang tersedia. Kriteria pemilihan konten sains adalah sebagai berikut:
1) Relevan dengan situasi nyata,
2) merupakan pengetahuan penting sehingga penggunaannya berjangka panjang,
3) sesuai untuk tingkat perkembangan anak usia 15 tahun.
Berdasarkan kriteria tersebut, maka dipilih pengetahuan yang sesuai untuk memahami alam dan memaknai pengalaman dalam konteks personal, sosial dan global, yang diambil dari bidang studi biologi, fisika, kimia serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa.

3.      Aspek Kompetensi/Proses

PISA memandang pendidikan sains berfungsi untuk mempersiapkan warganegara masa depan, yakni warganegara yang mampu berpartisipasi dalam masyarakat yang semakin terpengaruh oleh kemajuan sains dan teknologi. Oleh karenanya pendidikan sains perlu mengembangkan kemampuan siswa memahami hakekat sains, prosedur sains, serta kekuatan dan limitasi sains. Siswa perlu memahami bagaimana ilmuwan sains mengambil data dan mengusulkan eksplanasi-eksplanasi terhadap fenomena alam, mengenal karakteristik utama penyelidikan ilmiah, serta tipe jawaban yang dapat diharapkan dari sains.


PROFIL SEKOLAH
Visi dan Misi
Yayasan Pendidikan Krakatau steel

            Visi
Menjadi lembaga pendidikan dan mandiri dan tumbuh sesuai perkembangan global

Misi


            7 karakter budi pekerti
1.      Jujur
2.      Tanggung jawab
3.       Visioner
4.      Disiplin
5.      Kerja sama
6.      Adil





BAB III
PELAKSANAAN OBSERVASI

1.      Tempat Observasi

a.       Nama Sekolah                 : SDS YPKS 1 Cilegon
b.      Alamat                             : Jalan Jenderal Sudirman No.7 Komplek KS
c.       Telp                                  : (0254) 384674
d.      Kecamatan                       : Purwakarta
e.       Akreditasi                        : A

2.      Waktu Observasi

Kegiatan observasi dilakukan di SDS YPKS 1 Cilegon yang dilaksanakan pada hari Senin 12 Oktober mulai pukul 08.00 hingga pukul 10.00 WIB.

3.      Subjek Penelitian

Dalam observasi kami yang dijadikan subjek penelitian adalah siswa kelas 3A  SDS YPKS 1 Cilegon. Dan guru kelas 3A Ibu Yati Riv’ati Rahayu SP.d.

4.      Hasil Observasi

Kegiatan observasi yang kami lakukan bertempat di SDS  YPKS 1 Cilegon. SDS YPKS 1 Cilegon terletak di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 7 Komplek PT Krakatau Steel.  Sekolah ini berdiri pada tahun 1972 yang merupakan Sekolah Dasar pertama yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan Krakatau Steel. Dengan jumlah siswa pada tahun ajaran 2015/2016 mencapai 269 siswa, yang dibagi ke dalam sepuluh kelas, masing-masing kelas terdiri dari kelas A dan B, kecuali kelas satu dan kelas lima yang hanya terdapat satu kelas. Setiap kelas terdiri dari 20 sampai 30 siswa. Di SDS YPKS 1 Cilegon  terdiri dari 16 guru karyawan tetap dan 5 guru honorer, satu staf TU, tiga petugas kebersihan dan tiga petugas keamanan.

Berdasakan hasil observasi yang telah kami lakukan Di SDS YPKS 1 Cilegon, SDS YPKS 1 Cilegon menerapkan kurikulum 2013. Kami melakukan pengamatan pada siswa kelas 3A. Dimana mata pelajaran IPA menurut kurikulum 2013 terintegrasi kedalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Adapun dalam pembelajaran IPA itu sendiri SDS YPKS 1 Cilegon menekankan sistem pembelajaran PAKEM, dimana siswa dituntut untuk aktif, kreatif, namun pembelajarannya tetap menyenangkan bagi anak. Menurut penuturan salah satu guru kelas di SDS YPKS 1 Cilegon yang bernama Ibu Yati Riv’ati Rahayu, dalam pembelajaran IPA peserta didik sering melakukan belajar di luar kelas, mereka di bimbing oleh guru untuk mengamati atau melakukan pengamatan ataupun praktik. Seperti mengamati bentuk-bentuk daun, macam-macam batang, bahkan melakukan praktik penanaman, seperti mencangkok, stek, dan menanam umbi-umbian. Dalam melakukan praktik, peserta didik di bagi kedalam beberapa kelompok dari 20 siswa.

Misalnya pada kegiatan praktikum mengamati pertumbuhan pada tumbuhan, siswa diberikan tugas oleh guru untuk membawa berbagai macam biji-bijian,  seperti biji kacang tanah, bawang, kentang, biji cabai yang ditanam dikebun sekolah. Siswa dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari lima siswa. Siswa melaksanakan praktik secara mandiri dengan dibimbing oleh guru. Siswa diberitahu bagaimana cara mencangkul, menggemburkan tanah serta menanam umbi-umbian. Kemudian mereka di berikan tugas untuk menyusun laporan hasil pengamatan yang mereka lakukan dan format laporan praktikum di berikan oleh guru sehingga siswa hanya mengikuti format yang sudah diberikan oleh guru yang disesuaikan dengan RPP.
Dalam penyusunan laporan, siswa ditugaskan untuk menyusun laporan hasil praktik secara individu, walaupun dalam praktik nya dikerjakan secara berkelompok. Namun sebelum melakukan praktik langsung, peserta didik diberikan materi terlebih dahulu sebagai petunjuk dalam melakukan praktik. Metode seperti ini memiliki pengaruh besar terhadap motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Siswa lebih memahami tentang materi yang disampaikan dan lebih lama untuk mengingat materi yang disampaikan.dan siswa antusias dalam melakukan kegiatan praktik diluar kelas, karena hakikatnya siswa sekolah dasar memiliki karakteristik senang bermain. Jadi metode yang diterapkan di SDS YPKS 1 Cilegon sudah tepat karena melibatkan siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya menyimak apa yang disampaikan oleh guru tetapi siswa juga melakukan praktik langsung di lapangan.

Sesuai dengan konsep literasi sains yang mencakup tiga dimensi, yaitu konten (pengetahuan sains), siswa dituntut untuk memahami teori yang disampaikan oleh guru sebelum melakukan praktikum, kedua dimensi proses (kompetensi sains) yaitu siswa melakukan kegiatan praktik langsung sesuai dengan teori yang disampaikan,dalam prosesnya siswa melakukan kegiatan untuk mengidentifikasi pertanyaan ilmiah, menjelaskan fenomena secara ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah. Ketiga dimensi konteks (aplikasi sains),siswa diharapkan dapat menerapkan sains dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Namun ada beberapa kendala dalam proses pembelajaran IPA di SDS YPKS 1 Cilegon itu sendiri, yaitu terbatasnya waktu dalam proses pembelajaran, serta siswa jarang membawa alat dan bahan untuk praktik. Sehingga dalam melakukan kegiatan praktik menggunakan alat dan bahan seadanya.

Di SDS YPKS 1 Cilegon belum tersedia LAB IPA, hanya ada LAB bahasa dan LAB Komputer. Akan tetapi sarana dan prasarana di SD tersebut cukup memadai. Seperti KIT IPA yang cukup lengkap yang disediakan dari pemerintah. Beberapa contoh KIT IPA yang ada di SDS YPKS 1 Cilegon diantaranya: KIT Bunyi, KIT Optik, KIT Batu-batuan, KIT Cahaya, KIT Listrik, KIT Air, KIT Neraca, KIT Panas, KIT Magnet dan masih banyak lagi.




Contoh Format Laporan Praktikum Siswa

Laporan Hasil Praktek
Menanam Umbi dan Biji

Nama : Irvan
Kelas : 3A
Materi : Pertumbuhan Tumbuhan

Hari Ke
Cabai
Ubi Jalar
Kentang
Ubi ungu
Kacang merah
Kacang Tanah
1
Menanam biji

Menyiram

Menanam umbi

Menyiram
Menanam Umbi
Menanam Umbi
Menanam Umbi
Menanam Biji
2
Belum muncul apapun

Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
3
Belum muncul apapun

Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
4
Belum muncul apapun

Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Sudah muncul tunas
5
Belum muncul apapun

Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Belum muncul apapun
Sudah muncul daun






BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan

Setiap individu dituntut memiliki literasi sains (scientific literacy) yaitu memiliki penguasaan sains secara memadai, sehingga tidak hanya untuk menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi kehidupan melainkan juga untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan nyata. Sebagaimana yang telah diterapkan di SDS YPKS 1 Cilegon siswa dituntut untuk memahami sains secara keseluruhan, baik dari pemahaman pengetahuan sains, kompetensi sains maupun aplikasi sains. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan di SDS YPKS 1 Cilegon sudah tepat, karena melibatkan setiap siswa dalam mengkaji materi yang diajarkan yakni dengan melaksanakan kegiatan praktikum sederhana, sehingga memudahkan siswa dalam memahami isi materi.

Saran
Untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran sains di SDS YPKS 1 Cilegon, hendaknya  ditunjang dengan laboratorium IPA , sehingga proses pembelajaran IPA di SDS YPKS 1 Cilegon bisa berjalan dengan baik dan efektif.





DAFTAR PUSTAKA

sumsel.kemenag.go.id/file/file/TULISAN/wagj1343099486.pdf

Makalah Proses Pembelajaran Bahasa Daerah di SDN




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
                          Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa / murid di bawah pengawasan guru. Tingkat satuan pendidikan yang dianggap sebagai dasar pendidikan adalah sekolah dasar. Pendidikan dasar memang diselenggarakan untuk memberikan dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi anak didik. Pendidikan dasar inilah yang kemudian dikembangkan untuk meningkatkan kualitas diri anak  didik.
                          Calon guru merupakan calon pendidik yang nantinya berperan penting dalam mencerdaskan anak bangsa dan berkontribusi dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk itu mahasiswa PGSD yang merupakan calon guru SD harus mengetahui lebih awal tentang kondisi sesungguhnya yang ada di sekolah sehingga pada saat terjun ke sekolah dapat mempersiapkan dan merencanakan pelaksanaan pendidikan yang bermutu.
Dalam kesempatan ini observasi dan teman-teman sekelompok memilih SD NEGERI KUBANGLABAN yang terletak di kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang Provinsi Banten sebagai objek observasi dengan berberapa pertimbangan diantaranya, adanya izin dari pihak kepala sekolah tersebut kepada kami untuk melakukan observasi, kondisi sekolah yang memungkinkan dan menunjang untuk dilakukan observasi.
Adapun waktu  dalam melakukan observasi tanggal 20 Maret 2015, meskipun waktu yang digunakan dalam melakukan observasi ini relatif singkat dan sedikit terkendala pada penyesuaian jadwal sekolah dan kuliah, tetapi tidak menjadi kendala yang signifikan untuk mencapai tujuan dan sasaran dari observasi itu sendiri.

12.  RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana proses pembelajaran bahasa sunda di SDN Kubanglaban?
B.     Bagaimana upaya mengatasi permasalahan pembelajaran bahasa sunda di SDN Kubanglaban?
13.  TUJUAN PENELITIAN
     Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1.    Untuk mengetahui proses pembelajaran bahasa sunda di SDN Kubanglaban.
2.    Untuk mengetahui peran penting bahasa daerah bagi peserta didik.

PEMBAHASAN

A.  Proses Pembelajaran Bahasa Daerah di SDN Kubanglaban
1)      Pengertian bahasa daerah
Bahasa daerah merupakan
2)      Fungsi bahasa daerah
Dalam hubungannya dengan kedudukan Bahasa Indonesia, bahasa daerah seperti Jawa Sunda, Bugis, Makassar, dan lain sebagainya berkedudukan sebagai bahasa daerah. Kedudukan ini berdasarkan kenyataan bahwa bahasa daerah merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara berdasarkan penjelasan UUD 1945 pasal 36 Bab XV. Adapun fungsi dari bahasa daerah itu sendiri yaitu sebagai berikut:
1.      Bahasa Daerah sebagai pendukung Bahasa Nasional
Bahasa daerah merupakan bahasa pendukung bahasa Indonesia yang keberadaanya diakui oleh Negara. UUD 1945 pada pasal 32 ayat (2) menegaskan bahwa “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.” Dan juga sesuai dengan perumusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, bahwa bahasa daerah sebagai pendukung bahasa nasional merupakan sumber pembinaan bahasa Indonesia. Sumbangan bahasa daerah kepada bahasa Indonesia, antara lain, bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan kosa kata. Demikian juga sebaliknya, bahasa Indonesia mempengaruhi perkembangan bahasa daerah. Hubungan timbal balik antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah saling melengkapi dalam perkembangannya.
2.      Bahasa Daerah sebagai bahasa pengantar pada tingkat permulaan sekolah dasar
Di daerah tertentu, bahasa daerah boleh dipakai sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan tingkat sekolah dasar sampai dengan tahun ketiga  (kelas tiga). Setelah itu harus menggunakan bahasa Indonesia, kecuali daerah-daerah yang mayoritas masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.
3.      Bahasa Daerah sebagai sumber kebahasaan untuk memperkaya Bahasa Indonesia
Seringkali istilah yang ada di dalam bahasa daerah belum muncul di bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia memasukkannya istilah tersebut
indonesia sehingga bahasa indonesia memasukkannya istilah tersebut , contohnya “ gethuk “ { makanan yang dibuat dari ubi dan sejenisnya yang direbus, kemudian dicampur gula dan kelapa (ditumbuk bersama) } karena di bahasa indonesia istilah tersebut belum ada , maka istilah “ gethuk “ juga di resmikan di bahasa indonesia sebagai istilah dari “ makanan dibuat dari ubi dan sejenisnya yang direbus, kemudian dicampur gula dan kelapa (ditumbuk bersama) “.
4.      Bahasa Daerah sebagai pelengkap bahasa Indonesia di daam penyelenggaraan pemerintah pada tingkat daerah
Dalam tatanan pemerintah pada tingkat daerah, bahasa daerah menjadi penting dalam komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat yang kebanyakan masih menggunakan bahasa ibu sehingga dari pemerintah harus menguasai bahasa daerah tersebut yang kemudian bisa di jadikan pelengkap di dalam penyelenggaraan pemerintah pada tingkat daerah tersebut.
Begitupun bahasa sunda yang dijadikan Mulok yang diterapkan di SDN Kubanglaban, memiliki peran yang sangat penting bagi proses pembelajaran di sekolah itu sendiri. Yaitu sebagai  alat penghubung antarwarga masyarakat mengingat ada dua bahasa daerah yang digunakan di provinsi Banten, yaitu bahasa sunda dan bahasa jawa. Meskipun di lingkungan Bojonegara menggunakan bahasa jawa dalam kehidupan sehari-hari, namun SDN Kubanglaban menerapkan pembelajaran bahasa sunda sebagai mulok di sekolah itu. Di karenakan mengacu pada kurikulum yang digunakan di SDN Kubanglaban yaitu KTSP. Dimana dalam KTSP

3)      Media pembelajaran yang di terapkan di SDN Kubanglaban
Adapun media yang digunakan dalam proses pembelajaran bahasa sunda di SDN Kubanglaban yaitu hanya berupa buku paket. Dan hanya mengandalkan pengetahua guru mengenai bahasa sunda
4)       
Banyak respon yang di tunjukkan dalam proses pembelajaran bahasa daerah itu sendiri. Ada yang
B.     Upaya mengatasi permasalahan proses pembelajaran bahasa daerah di sekolah dasar
1.      Respon guru dan siswa terhadap pembelajaran bahasa sunda
Pembelajaran bahasa daerah yang dipakai di SDN Kubanglaban sangat kontradiktif terhadap keadaan geografis siswa. Karena kebanyakan di Kecamatan Bojonegara ini menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa sehari-harinya. Dan respon siswa terhadap pembelajaran bahasa sunda sangat pasif, karena mereka pikir pembelajaran bahasa sunda tidak terlalu penting bagi mereka. Maka dari itu sulit untuk guru maupun siswa dalam menjalani proses pembelajaran bahasa sunda itu sendiri. Hal ini memicu guru untuk lebih giat lagi dalam mempelajarai bahasa sunda dan lebih memahami bahasa sunda agar bahasa sunda itu sendiri tersampaikan dengan baik kepada siswa. Sehingga proses pembelajaran berhasil sesuai kurikulum yang di terapkan.
2.      Manfaat mempelajari bahasa daerah
Banyak manfaat yang dapat diambil dari pembelajaran bahasa daerah.
3.      Kelebihan dan kekurangan pembelajaran bahasa daerah di SDN Kubanglaban
Kelebihan pembelajaran bahasa daerah yaitu bahasa sunda di SDN Kubanglaban yaitu membuat anak menemukan sesuatu yang baru, dan menambah wawasan anak terhadap bahasa daerah itu sendiri. Dan memotivasi anak untuk lebih mengenal dan memahami bahasa daerah yang dipakai di provinsi Banten ini. Namun kekurangannya, dalam pembelajaran bahasa sunda di SDN Kubanglaban sendiri yaitu kurangnya sumber daya manusia yang mampu dalam bidang bahasa sunda itu sendiri, serta media yang kurang memadai dalam berlangsungnya proses pembelajaran bahasa sunda di SDN Kubanglaban. Sehingga itu yang menjadi kendala dalam keberlangsungan pembelajaran bahasa daerah.
4.      Upaya dalam mengatasi permasalahan pembelajaran bahasa Sunda di SDN Kubanglaban
Dengan banyaknya permasalahan dalam proses pembelajaran bahasa sunda di sekolah dasar. Harus ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan itu. Baik upaya dari pihak sekolah, maupun dari pemerintah.
Upaya dari pihak sekolah yaitu agar lebih menekankan lagi pada guru kelas dalam proses pembelajaran bahasa daerah untuk lebih menguasai lagi bahasa daerah yang akan disampaikan dalam pembelajaran bahasa daerah. Agar proses pembelajaran berjalan dengan baik sesuai kurikulum yang diterapkan.
Dan upaya dari pemerintah diharapkan agar pemerintah bisa memberikan sarana dan prasarana yang menunjang proses berlangsungnya pembelajaran bahasa daerah itu sendiri, seperti pengadaan kamus dan media-media pembelajaran lainnya.