Selasa, 15 Desember 2015

KEARIFAN LOKAL MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL : KASUS KOTA BANTEN

Sebelum era industri, beberapa kota di pesisir utara Banten masih dipandang rural, dan betapa suatu komunitas harus pula dipandang lamban dalam beradaptasi dengan perubahan rejim ekonomi politik yang terjadi di sekelilingnya. Namun perlu dikritisi bahwa ukuran sebuah masyarakat rural atau urban bukan semata ditentukan oleh besaran ruang dan bentuk, tetapi yang lebih esensial adalah fungsi ruang dalam konteks historis regional. Dari perspektif ini, sesungguhnya tradisi kota di Banten telah muncul jauh sebelum era kolonial, bahkan mungkin terjadi sebelum era kesultanan.
Penelitian arkeologi di situs Banten Girang (Guillot, 1994) telah memberi bukti konkrit struktur kota sebagai pusat pemerintahan pra-Islam. Sejumlah besar artefak ‘mewah’ dari negeri Cina sedini abad X, menunjukkan jejak awal perdagangan lintas benua, di mana penduduk Banten telah melakukan hubungan intensif dengan masyarakat di luar lingkar budayanya. Jika elemen eksternal harus dianggap sebagai unsur dominan dalam modernitas Banten, sesungguhnya Banten telah lama, bahkan berkali-kali mengalami era ‘globalisasi’. Berbagai jejak arkeologis membuktikan penduduk Banten telah memiliki local genius, sehingga mampu menunjukkan kapasitas adaptasi yang dibutuhkan dalam aspek-aspek kehidupan tertentu.
Oleh karena itu, mengkaji warisan budaya (arkeologi, sejarah dan etnografi) bukan saja karena korelasi yang kuat dengan entitas geopolitik Banten, tetapi yang lebih penting adalah karena entitas budaya Banten mengandung nilai-nilai kearifan, tempat kita menemukan kembali jatidiri dalam kerangka membangkitkan self-awareness. Kepentingannya terletak pada proposisi bahwa jauh sebelum modernisasi Barat menapak di bumi Banten sejak awal abad XIX, orang Banten telah mengalami dan sekaligus melewati berbagai perubahan global dalam tradisi budaya sendiri.
Dengan demikian, mengkaji masa lampau Banten merupakan keniscayaan ketika kita menghadapi gempuran global dengan segala eksersis geopolitik dan ekonomi, yang konon membawa nilai-nilai universal, tetapi faktanya universalisme itu hanya ‘pembaratan’ entitas lokal. Maka, mengungkapkan elemen kearifan lokal adalah suatu upaya memahami apakah masyarakat Banten telah melakukan pembaharuan sendiri pada setiap periode sejarah, lalu mempertanyakan apakah cermin sejarah itu memantulkan berbagai local genius (gagasan, perilaku dan karya) yang bernilai positif dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Kearifan lokal dalam konteks global
Dari beberapa fakta dan gejala masa lalu, seperti juga pernah diformulasikan Christian Pelras untuk masyarakat Bugis melalui pendekatan antropologi-sejarah (The Bugis, 1998), elemen-elemen modernitas itu tampak pada episode perkembangan masyarakat Banten. Secara tentatif, sekurang-kurangnya ada tujuh elemen yang dapat digali dari seluruh fase arkeo-historis Banten.
1) Pemikiran rasional
Jika ilmu pengetahuan merupakan unsur yang bisa menjadi tolok ukur kemajuan peradaban sebuah bangsa, maka itu bisa dilihat dari teori transisional penjamanan prasejarah dan sejarah sebagai masa peralihan dari ‘jahiliyah’ menuju ‘pencerahan’. Dalam peralihan zaman itu, pengenalan tulisan menjadi indikator utama pemikiran rasional, di mana pengetahuan dapat ditransfer melalui simbol-simbol bunyi yang terstruktur.
Kelahiran para cendekiawan di masa lalu terutama dimulai dari semangat kepujanggaan, sebagai hasil dari penguasaan teks dan sastra suci Indic civilization. Budaya literasi pertama di Banten diberikan oleh pengenalan bahasa Sanskerta. Prasasti Raja Purnawarman di Cidanghyang (Munjul, Pandeglang) menjadi bukti luasnya penggunaan bahasa itu di luar pusat kekuasaan (Bekasi – Karawang). Kendati belum jelas tingkat absorpsinya di Banten, tetapi memberi kemungkinan adanya kepatuhan pada dominasi Tarumanegara melalui media prasasti itu. Sejak itu ada kekosongan peristiwa dalam sejarah Banten hingga awal masuknya Islam.
Kendati amat sangat terlambat, Banten baru benar-benar memasuki jaman ‘tulisan’ itu setelah difusi kebudayaan Islam melalui aksara Arab yang belakangan dibumikan menjadi Jawi atau Pegon (bahasa lokal menggunakan tulisan Arab). Pengetahuan aksara Arab itulah yang telah membuat masyarakat Banten terbuka untuk mempelajari ilmu dan berbagai kemajuan yang dicapai bangsa lain, dan kemudian mentransmisikan pengetahuan itu dalam bahasa Melayu, Jawa dan Sunda dari generasi ke generasi sebelum dikenalnya alphabet Latin.
2) Keluasan komunikasi
Sejak abad X sekurang-kurangnya, Banten telah melakukan hubungan dengan negeri India dan Cina yang kemudian lebih intensif dengan dunia Timur Tengah. Jauh sebelum kedatangan orang Portugis, para pelaut India dan Cina telah menyinggahi perairan Banten, dan memasukkan daerah ini ke dalam mata rantai perjalanan niaga timur jauh. Peta Laut Shun Feng Hsiang Shung (1500) telah menempatkan Banten sebagai salah satu pelabuhan penting di Asia Tenggara. Maka sedini awal abad X hingga memasuki abad XV, masuknya Banten ke dalam jaringan maritim lintas benua itu memungkinkan terjadinya difusi budaya.
Dengan dukungan teknologi ekonomi dan sistem pemerintahan sebelum dan semasa kesultanan, rejim baru yang menguatkan otoritas di delta Cibanten, masyarakat Banten kemudian meninggalkan era ‘ketertutupan’ untuk terus ‘terbuka’ terhadap elemen-elemen budaya asing yang mengharuskannya menjadi bagian dari warga dunia. Dengan semangat itu, maka berbagai sistem kemasyarakatan pun secara gradual mengalami transformasi, baik dalam pola pikir, gaya hidup maupun dalam proses interaksi antar-budaya, terutama dalam ekonomi politik. Dua pelabuhan (Pabean sebagai emperium dan Karangantu) yang mengapit pusat kota menjadi sayap yang membuka lebar perjalanan ke berbagai tujuan dimana pusat peradaban dunia: Barat dan Timur menjadi benchmark yang referensial.
3) Peningkatan Produktivitas
Paruh kedua abad XX, Indonesia mengalami oil boom, yang memicu pertumbuhan ekonomi luar biasa dan berdampak langsung pada perubahan sosial dan tentu saja life style. Dalam sejarah ekonomi, Banten pernah mengalami pepper boom, yang membawa perubahan radikal dalam sistem ekonomi perdagangan di Asia Tenggara, karena substitusi sumber ekonomi dari yang berbasis hasil hutan (mencari-mengumpul) ke hasil kebun (budidaya).
Faktor demand dalam perdagangan rempah internasional telah menggantikan popularitas silk route dengan tantangan ekonomi baru, yakni spice route antara Dunia Barat dan Timur. Reorientasi ekonomi itu dipicu oleh peningkatan konsumsi yang berselera dari rejim feodal Eropa menjelang era industri. Permintaan pasar dunia telah membangkitkan gairah supply di sektor hulu dengan mengadopsi teknologi pertanian (budidaya) lada atau merica, dari hanya sekadar rempah tradisional, menjadi salah satu produk eksotik dan bernilai tinggi dalam agribisnis internasional.
Saat itu Banten menjadi negeri pengekspor utama lada hitam. Fenomena sejarah ini harus dipandang sebagai bukti adanya transformasi dalam aspek ekonomi, dari self-sufficiency ke exchange-oriented. Kompleksitas ekonomi-kebun ini membawa implikasi pada sistem ekonomi uang, terutama setelah dikenalnya teknik penanaman lada (round pepper) sekurang-kurangnya sejak abad X. Produk itu terbukti telah membawa perubahan politik dan sosial yang luas, dimana otoritas Banten terpaksa harus melakukan ekspansi lahan perkebunan ke daerah Lampung dan Bengkulu, dan sistem pertukaran harus ditentukan oleh size and price. Pada gilirannya, otoritas lokal memastikan perlunya moneterisasi perdagangan dengan menetapkan mata uang yang berlaku resmi di Banten (ada indikasi percobaan untuk pasar Eropa?).
Prinsip ekonomi uang itu berkorelasi kuat dengan modernisasi perdagangan yang telah lama dikenal di dunia Barat dan Timur (Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur), yang pada akhirnya memberi jalan bagi partisipasi masyarakat Banten dalam kegiatan transaksi ekonomi internasional.
4) Spesialisasi keahlian
Data arkeologi dari situs Banten Girang dan terutama Banten Lama merefleksikan sebuah masyarakat urban pernah terbangun antara abad X dan XVII sebelum berdirinya kota kolonial di Banten Baru (Serang sekarang!) di bawah otoritas seorang Residen. Kota Banten telah menyisakan banyak toponim yang mengacu pada tempat-tempat yang mengindikasikan jenis pekerjaan penduduk. Banyak pula artefak yang menunjukkan sisa-sisa kegiatan pertukangan, seperti metalurgi (keranggen), kerajinan tanah liat bakar (panjunan), perdagangan merica (pamarican) dan lainnya.
Di bidang lain, ada kelompok masyarakat yang mengkhususkan keahlian di bidang pendidikan dan pengajaran (kepakihan, kasunyatan), keprajuritan (kasatryan) dan yang paling menonjol adalah pusat distribusi Pabean, yang sangat melekat dengan fungsi kesyahbandaran (douane). Elemen modernitas jenis ini pastilah mengacu pada jenis-jenis pekerjaan tertentu yang memerlukan keahlian khusus dalam kapasitas individual ataupun mandat dari pemegang otoritas politik.
Keahlian itu menjadi ukuran pencapaian sebuah masyarakat yang mengutamakan profesionalisme dalam tatanan urban society. Sejumlah toponim typique itu dapat diinterpretasikan bahwa struktur kota Banten dibentuk oleh banyak klaster spesifik, yaitu administrasi pemerintahan, daerah sumberdaya, pusat produksi dan distribusi serta pemukiman kelompok etnik-ras dan profesi yang dihubungkan dengan sistem komunikasi darat dan sungai dalam keseluruhan jaringan kota. Dalam tradisi kota di Asia Tenggara, struktur ruang ini memberi ciri metropole pada rancang bangun kota Banten.
5. Keterbukaan kultural
Sejak berdirinya kesultanan, Banten merepresentasikan diri sebagai city-state (negara-kota) yang berorientasi pada perdagangan internasional. Kota Banten dengan penduduk heterogen menjadi potpourie ethnique atau ‘wadah pelebur’ kelompok pembawa identitas budaya dari berbagai peradaban besar. Interaksi antar-etnik bahkan antar-ras mengharuskan tumbuhnya ‘budaya terbuka’ bagi berbagai kemajuan, juga perkembangan kebudayaan.
Karakter open culture itu, misalnya tampak pada penggunaan bahasa. Bahasa Melayu memang telah lama menjadi lingua-franca di Nusantara termasuk juga di Banten. Tetapi karena ikatan budaya yang kuat dengan pusat-pusat kekuasaan pesisir utara Jawa, Banten kemudian menjadi pewaris jauh dari bahasa Jawa pesisiran. Selain bahasa Sunda sebagai bahasa ibu pada awalnya, di pusat kota Banten, bahasa Melayu dan Jawa telah menjadi bahasa umum baik dalam domain pemerintahan maupun ranah kehidupan sosial, agama dan ekonomi perdagangan.
Namun harus dicatat, banyak penduduk kota Banten juga menguasai aksara dan bahasa asing, terutama Arab. Hal ini bisa dilihat dari berbagai karya keagamaan hasil pemikiran orang Banten yang dipusatkan di Kasunyatan. Belakangan lebih kuat lagi pada figur Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Abdul Karim Tanara, dan Kiai Asnawi di luar pusat kota Banten. Bahkan, aksara Arab juga digunakan secara resmi dalam pemerintahan, sebelum dikombinasikan dengan aksara Jawa dan Latin pada periode kolonial. Dengan demikian, penguasaan bahasa-bahasa yang umum pada masa itu, menjadikan Banten mampu mendobrak kebekuan hubungan antar-etnik dan antar-ras sekaligus membuat kebudayaan dapat berkembang dalam dinamika kontemporenitas yang diperlukan.
Di lain sisi, berbagai ujud kebudayaan menampakkan heterogenitasnya, baik dalam aspek arsitektur, susastra, seni pertunjukkan, seni kriya dan juga busana. Demikian lama proses difusi budaya itu sehingga menyulitkan kita untuk menemukan kembali ujud asli dari kebudayaan itu serta bagaimana proses transformasinya dari satu periode ke periode lain. Sebuah generalisasi mungkin perlu diajukan sebagai hipotesis bahwa kebudayaan Banten merupakan hasil perpaduan berbagai unsur lokal dan asing yang telah terbina dalam proses waktu cukup panjang.
6) Hubungan kekerabatan
Elemen kearifan lokal lain perlu dilihat dari sudut pandang antropologi sosial, berkenaan dengan transformasi dalam ‘hubungan kekerabatan’. Ketika feodalisme berlaku fungsi politik dan ekonomi tidak terlalu penting dalam kehidupan keraton. Gelar warisan (hight birth) pun memainkan peran dominan dalam hubungan sosial penduduk kota. Namun, dalam interaksi sosial yang lebih luas (terutama pada lingkar extra-muros), kapasitas profesional menjadi lebih penting, karena kewibawaan personal tidak semata-mata dibentuk oleh keterkaitan pada faktor keturunan, tetapi prestasi seseorang dalam fungsi sosial tertentu menjadi pilihan.
Banyak fakta menunjukkan bahwa tidak semua ‘pangeran’ bisa menduduki status tinggi dalam kerajaan, tetapi hanya mereka yang dipandang cakap dalam keahlian tertentu. Oleh karena itu ‘penduduk biasa’ pun, bahkan orang asing ‘keturunan’ Tamil, Arab atau Cina sekalipun, bisa mencapai status tinggi, karena mampu menunjukkan keahlian dan pengabdian pada negara. Maka gelar ‘pangeran’ dalam tradisi kesultanan Banten bukan semata diperoleh karena hubungan darah, tetapi juga status dan kedudukan seseorang dalam fungsi sosial tertentu.
Sebagai contoh misalnya Kiai Dukuh (seorang Arab?), guru agama yang memberikan pengajaran agama kepada Maulana Muhammad, mendapat gelar kehormatan: ‘Pangeran Kasunyatan’. Demikian pula Syahbandar Kaytsu (seorang Cina) yang digelari Kiai Ngabehi telah mendapat penghormatan besar untuk dimakamkan di kompleks pekuburan kesultanan Banten (nekropolis) di samping Masjid Agung. Di sinilah Banten mengalami apa yang disebut transformasi dalam hubungan kekerabatan, yang memberi karakter pada masyarakat modern. Dan tepat jika Banten juga bersifat kosmopolitan ketika bandar itu banyak didiami pedagang mancanegara.
7. Keutamaan individual
Dan aspek kearifan lokal ketujuh, bersumber dari fakta bahwa masyarakat Banten pernah mengalami era kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Abdul Qadir dan Sultan Ageng Tirtayasa. Lazimnya, dalam sistem feodal, keutamaan individual sangat ditentukan oleh trend-setters pemegang otoritas warisan (para sentana). Namun eksistensi setiap warga tetap berada dalam pranata sosial yang berlaku umum pada masanya. Demikian pula, tanggung jawab menjadi bersifat pribadi dan tidak ditanggung oleh kelompok besar seperti halnya ditemukan pada masyarakat komunal (communal society) dengan ritual purification (‘bersih desa’).
Dalam sejarah Banten dikenal adanya acuan hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan, terutama berdasarkan syariat Islam dan tradisi turun-temurun di bawah pimpinan seorang Qadi (Pakih Najamuddin?). Setiap orang mempunyai kedudukan sama dalam hukum negara seperti tertuang dalam “Undang-Undang Banten” dengan berbagai sanksi hukum baik perdata maupun pidana (Perlu baca disertasi Ayang Utrisa di EHESS Paris tentang Undang-Undang Banten dari pendekatan filologi).
Banyak kasus menunjukkan bahwa beberapa keluarga dekat raja juga tidak luput mendapat sanksi hukum karena tindakannya yang merugikan negara. Tetapi, disamping sanksi hukum juga ada pemberian reward terhadap penduduk Banten. Beberapa orang biasa, karena prestasinya dalam menghasilkan karya-karya yang bersifat individual, baik dalam karya keagamaan, kesusastraan, arsitektur maupun perdagangan dan juga dalam politik pemerintahan, telah diberikan mandat memegang jabatan penting. Sebaliknya, Pangeran Kidul (adik Sultan Ageng) terpaksa harus dilengserkan dari jabatannya, karena tidak cakap menjalankan tugas kesyahbandaran sepeninggal Kaytsu (Rantoandro, 1999). Dalam struktur jabatan birokrasi modern, gejala ini merupakan indikasi dari konsep pemerintahan legal-rasional.
Epilog
Dari ketujuh elemen modernitas itu beberapa terbukti telah menjadi faktor yang amat penting dalam menghadapi dominasi budaya asing setelah jatuhnya kesultanan di bawah tekanan VOC dan kemudian lebih tegas lagi pada era kolonial. Sayangnya, elemen-elemen local genius itu sekarang hampir membeku, bahkan nyaris terlupakan. Ibarat sebuah permata, ia adalah intan yang perlu diasah kembali jika kita ingin melihat kualitasnya. Di sini, kearifan lokal Banten harus terus ditemu-kenali dan dikaji ulang dalam konteks global.
Sampai hari ini, belum ada kajian yang mendalam tentang aspek-aspek local wisdom dalam sejarah dan tradisi Banten. Banyak sumber informasi (tangible dan intangible) bisa dieksplorasi untuk berbagai pendekatan yang multidimensional dan interdisipliner, banyak pula kesaksian-kesaksian material seperti manuskrip, karya arsitektural, dan artefaktual belum menjadi sumber acuan yang komprehensif.
Lagi pula, Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya telah ditetapkan dengan paradigma baru, yang meniscayakan perlunya partisipasi masyarakat dalam pelestarian cagar budaya. Lantas bagaimana orang Banten dapat mengenal sejarahnya, bagaimana orang Banten dapat membangun kesadaran untuk menemukan jati diri, dan terakhir bagaimana kita bisa mentransfer semangat kebudayaan Banten dari generasi ke generasi; menghadapi berbagai tantangan global: geopolitik, teknologi-ekonomi, sosial budaya? Semua pertanyaan itu mestinya menjadi bahan renungan kita ke depan. Di sini kita memerlukan analisis antropologi budaya untuk mengungkapkan dasar-dasar local genius ataupun local wisdom and technology pada entitas budaya dari keseluruhan fase sejarah Banten.
Dari sinopsis masa lalu kota Banten, tampaklah bahwa unsur-unsur budaya lokal terbentuk sebagai hasil proses sejarah yang panjang. Jika elemen modernitas itu dipandang sebagai sintesis dari kearifan lokal yang mendapat sentuhan budaya luar, tugas kita sekarang adalah bagaimana menemukan akarnya. Bagaimanapun ujud dari entitas budaya lokal itu, sumber utamanya berasal dari masa lalu, kendati era global telah melanda hampir seluruh pelosok Banten, namun masa lalu selalu dipandang sebagai a living component of present-day life; komponen hidup yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja dari kehidupan kontemporer.
Ketika sekarang, kita dihadapkan pada pertanyaan, mengapa warisan budaya harus dilestarikan, jawabannya adalah karena manusia memiliki kesadaran akan hidup dan eksistensinya. Maka untuk menunjang kehidupan dan eksistensi itu manusia selalu memiliki awareness of the past yang selalu mengandung kearifan lokal. Maka tugas kita yang kedua adalah bahwa abstraksi nilai dan norma, serta sistem sosial yang melatari terbentuknya local wisdom itu, perlu tindakan konstruktif untuk, bukan sekedar merevitalisasi, tetapi juga melalui langkah-langkah reformulasi dan reaktualisasi, sejalan dengan tantangan global sekarang dan nanti.

DRAMA NASEHAT DARI SAHABAT

Judul: Nasehat Dari Sahabat
Tema: Sosial (persahabatan)
Jumlah pemeran: 4 orang
Karakter:
                  Ani: Baik (suka menasehati)
                  Nani: Baik (suka dengan kebaikan)
                  Jordi: Jahat (suka menjahili orang)
                  Dendi: Baik (suka menegur temannya ketika salah)

Alur Drama

Pada pagi hari itu tepatnya di depan rumah Ani, Nani, Jordi dan Dendi sedang berkumpul. Tidak lama kemudian si Ani keluar dari rumahnya mendengar ketiga temannya itu sedang ngobrol didepan halaman rumahnya.

Naskah Dialog Drama

Ani: Hai, ada apa ini? Kok tumben kalian pada gerumpi didepan rumah akau..  nggak manggil aku lagi?!

Nani: Aku tadinya sih mau manggil kamu, tapi kamunya aja yang sudah keburu nongol. Nggak ada acara kamu hari ini, An?

Ani: Nggak ada tuh.. emang mau ngajak kemana kok kayaknya mau ngajak aku jalan gitu?

Nani: Nggak kok, aku cuman nanya aja.. ya, sapa tahu aja kamu mau kemana gitu, kan biasanya kamu padat acara.

Ani: Nggak ada kok, hari ini aku stay dirumah aja.

(Tiba-tiba Jordi menyampaikan idenya kepada teman-temannya untuk ngejahilin Lela yang biasanya lewat didepan rumah Ani).

Jordi: Eh teman-teman, aku ada ide nih!

Dendi: Ide apaan tu?

Jordi: Bisanya jam sgini kan Lela pasti lewat sini, gimana kalau kita kerjain dia. Setuju nggak kalian?

Dendi: Ngerjain Lela?! Ah.. kamu ini jahat amat sih jadi orang!

Ani: Iya tuh.. kenapa sih dari dulu kamu tuh nggak pernah berubah, Di. Dari dulu kerjaannya pengen ngejahilin orang terus!

Jordi: Biarin.. kan itu emang hobiku.

(Nani berusaha untuk menyadarkan Jordi yang diusianya sudah menginjak 17 tahun, tapi sikapnya masih saja seperti anak-anak).

Nani: Jordi, kamu tu kan udah dewasa, mestinya tabiat buruk yang selama ini melekat pada diri kamu itu sudah beransur menghilang, ini nggak malah sepertinya makin menjadi.
Ani: Tuh.. dengerin kata si Nani, harusnya kamu tuh bisa bersikap lebih dewasa, dan kebiasaan kamu yang suka ngejahilin orang itu sedikit demi sedikut harus kamu hilangin.

(Karena Jordi anaknya memang keras kepala dan suka menganggu orang lain, maka dia tidak mengedahkan nasehat teman-temannya).

Jordi: Ah,,, masa bodoh kalian!

(Melihat sikap si Jordi yang tidak juga sadar diri tentang kebiasaan buruknya, Dendi pun berusaha menyadarkan Jordi).

Dendi: Iseng itu emang boleh aja sih, Jordi. Tapi, kalau berlebihan kan nggak baik juga. Lela tu anaknya baik dan pendiam, terus kenapa tega amat kamu mau ngerjain dia. Emang salah dia apa?

Ani: Bener banget apa yang Dendi bilang. Justru kalau aku pas ngelihat Lela itu yang ada dihati ini malah rasa hiba.

Jordi: Iba? Emang kenapa kok harus ngerasa iba?

Ani: Lela itu kan sudah nggak punya Ibu. Dia sehar-hari menghabiskan waktunya untuk membantu ayahnya dagangan di pasar.

(Jordi baru tahu kalau ternyata Lela sudah tidak memiliki ibu. Mendengar kabar tersebut, keinginan Jordi untuk menjahili Lela pun pupus).

Jordi: Oh.. begitu ya.. kasihan ya si Lela! Ya sudah deh, aku janji nggak bakalan ngejahilin atau ngerjain Lela lagi.

Nani: Bagus itu, tapi jangan hanya sama Lela dong! Sama siapapun kamu nggak boleh bersikap jahil. Itu kan perbuatan dosa.

Ani: Bener itu!

Jordi: Ah.. kalian dikit-dikit dosa!

(Semenjak itu, Jordi sudah tidak pernah menganggu Lela lagi, namun perangai buruknya masih saja tidak berubah. Jordi sering membuat onar dikampungnya dan juga disekolahan).

Naskah Drama 4 Orang Tentang Persahabatan - SELESAI

FILSAFAT TIMUR

Filsafat Timur merupakan sebutan bagi pemikiran-pemikiran filosofis yang berasal dari dunia Timur atau Asia, seperti Filsafat CinaFilsafat IndiaFilsafat JepangFilsafat IslamFilsafat Buddhisme, dan sebagainya. Masing-masing jenis filsafat merupakan suatu sistem-sistem pemikiran yang luas dan plural.[1] Misalnya saja, filsafat India dapat terbagi menjadi filsafat Hindu dan filsafat Buddhisme, sedangkan filsafat Cina dapat terbagi menjadi Konfusianisme dan Taoisme.[2] Belum lagi, banyak terjadi pertemuan dan percampuran antara sistem filsafat yang satu dengan yang lain, misalnya Buddhisme berakar dari Hinduisme, namun kemudian menjadi lebih berpengaruh di Tiongkok ketimbang di India.[2] Di sisi lain, filsafat Islam malah lebih banyak bertemu dengan filsafat Barat.[1] Akan tetapi, secara umum dikenal empat jenis filsafat Timur yang terkenal dengan sebutan "Empat Tradisi Besar" yaitu Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme.[3]
Filsafat Timur memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan filsafat Barat, yang mana ciri-ciri agama terdapat juga di dalam filsafat Timur, sehingga banyak ahli berdebat mengenai dapat atau tidaknya pemikiran Timur dikatakan sebagai filsafat.[4][2] Di dalam studi post-kolonial bahkan ditemukan bahwa filsafat Timur dianggap lebih rendah ketimbang sistem pemikiran Barat karena tidak memenuhi kriteria filsafat menurut filsafat Barat, misalnya karena dianggap memiliki unsur keagamaan atau mistik.[5] Akan tetapi, sekalipun di antara filsafat Timur dan filsafat Barat terdapat perbedaan-perbedaan, namun tidak dapat dinilai mana yang lebih baik, sebab masing-masing memiliki keunikannya sendiri.[2][6] Selain itu, keduanya diharapkan dapat saling melengkapi khazanah filsafat secara luas.[2]
Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat Posted on November 26, 2009 by teosophy
Oleh: Bandeh Khudo
Yang dibahas disini terutama filsafat Barat, karena misalnya filsafat India dan filsafat Cina lebih bersifat mengajar bagaimana manusia mencapai “keselamatan” (“moksa”), atau bagaimana manusia harus bertindak supaya diperoleh keseimbangan antara dunia dan akhirat. Tak dapat diungkiri didalamnya juga ada unsur akal, tetapi bukan produk dari refleksi yang sifatnya kritis rasional.
Ada empat periode besar dalam filsafat Barat:
   Zaman Yunani (600 sM – 400 M);
   Zaman Patristik dan Skolastik (300 M – 1500 M);
   Zaman Modern (1500 M – 1800 M);
   Zaman sekarang (setelah 1800 M).
Patut dicatat bahwa tiap zaman memiliki ciri dan nuansa refleksi yang berbeda. Dalam zaman Yunani diletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat. Zaman Patristik dan Skolastik ditandai oleh usaha yang gigih untuk mencari keselarasan antara iman dan akal, karena iman di hati, dan akal ada di otak. Tidak cukuplah sikap credo quia absurdum = “aku percaya justru karena tidak masuk akal” Tertulianus, 160-223 M. Dalam Zaman Modern direfleksikan berbagai hal tentang rasio, manusia dan dunia. Jejak pergumulan itu terdapat dalam aliran-aliran filsafat dewasa ini.

1. Zaman Yunani
1.1. Filsafat pra-sokrates ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu (“arche” = ). Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan: air, Anaximandros: yang tak terbatas, Empedokles: api-udara-tanah-air. Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir (“panta rei” = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu? Pythagoras (580-500 sM) dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga. Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.
1.2. Puncak zaman Yunani dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan Aristoteles (384-322 sM).
1.2.1. Sokrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk “melahirkan” pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. — Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya.
Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai “sophis” (“yang bijaksana dan berapengetahuan”), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti diungkapkan oleh Cicero kemudian, Sokrates “menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah”. Karena itu dia didakwa “memperkenalkan dewa-dewi baru, dan merusak kaum muda” dan dibawa ke pengadilan kota Athena. Dengan mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena, namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.

1.2.2. Plato menyumbangkan ajaran tentang “idea”. Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-kuda, nun disana di dunia idea. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-kuda itu muncul semua kuda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, … bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung, … kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak.
Plato ada pada pendapat, bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, — konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.
Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh. Itu persoalan ada (“being”) dan mengada (menjadi, “becoming”).
1.2.3. Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya. Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu “berubah” (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda.
Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan.
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir. Logika dibentuk dari kata logikoz, dan logoz berarti sesuatu yang diutarakan. Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.
Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Itu berbeda dari Plato. Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih “hylemorfisme”: apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material (“hyle”) sana-sini dari bentuk (“morphe”) yang sama. Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan (“dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda. Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama. Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang “tetap” dan yang “berubah”.
Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah “pria yang belum lengkap”. Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah “ladang”, yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah “yang menanam”. Dalam bahasa filsafat Aristoteles, pria menyediakan “bentuk”, sedang wanita menyumbangkan “substansi”.
Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama “jiwa” (“psyche”, Latin: anima). Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat “mengamati” dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup “mengerti” dunia dalam dirinya. Jiwa manusia dilengkapi dengan “nous” (Latin: “ratio” atau “intellectus”) yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima “logoz”. Itu membuat manusia memiliki bahasa.
Pemikiran Aristoteles merupakan hartakarun umat manusia yang berbudaya. Pengaruhnya terasa sampai kini, — itu berkat kekuatan sintesis dan konsistensi argumentasi filsafatinya, dan cara kerjanya yang berpangkal pada pengamatan dan pengumpulan data. Singkatnya, ia berhasil dengan gemilang menggabungkan (melakukan sintesis) metode empiris-induktif dan rasional-deduktif tersebut diatas.
Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya. Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga. — (Catatan kecil saja dari FSP: Maka jangan terkejut jika pandangan berat-sebelah tentang pria-wanita sangat dominan sampai kini. Legitimasi filsafati agaknya telah diberikan oleh Arsitoteles atas praktek yanh umum di dalam masyarakat Timur Tengah, Eropa abad pertengahan dan dimana saja. Gereja Katolik pun selama berabad-abad mengikuti pendirian yang sama, sekalipun landasan biblisnya sama sekali tidak ada. Yesus, sebagaimana tampak dalam Injil, memiliki pandangan yang sama sekali tidak berat-sebelah tentang gender.)
Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran, berperan sebagai organon (“alat”) untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis. Aristoteles mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong, kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan tentu saja fisika. Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia dan Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin), Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya masing-masing.
1.3. Zaman Yunani pasca-aristoteles ditandai oleh tiga aliran pemikiran filsafat, yaitu Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme. Stoisisme (Zeno, 333-262 sM) terkenal karena etikanya: manusia berbahagia jika ia bertindak rasional. Epikurisme (Epikuros, 341-270 sM) juga terkenal dalam etika: “kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita”.

Neo-platonisme (Plotinos, 205-270 M). Idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) disebut oleh Plotinos to en = “to hen”, yang esa, “the one”. Yang esa adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Yang esa adalah pusat daya, — seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya. Kendati proses emanasi, yang esa tak berkurang atau terpengaruh sama sekali.
Dari to en mengalir nouz = “nous”, budi, akal, bahkan roh (?). “Nous” merupakan “bayang-bayang” dari “to hen”. Dari “nous” mengalir ynch = “psykhe”, jiwa, yang merupakan perbatasan “nous” dengan mh ou = “me on”, materi, yang merupakan kemungkinan atau potensi bagi keberadaan suatu bentuk, yang pada manusia adalah tubuh. “Psykhe” merupakan penghubung antara “nous” yang terang, yang berlawanan dengan materi yang gelap, yang rohani berlawanan dengan yang jasmani. — Menurut neo-platonisme, perlawanan itu merupakan penyimpangan dari kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, manusia harus kembali kepada “to hen”, dan itulah tujuan hidup manusia. “To hen” kiranya identik dengan konsep “Sang Sangkan Paraning Dumadi” dalam tradisi Jawa.
Kesatuan mistis dengan “to hen” merupakan kebenaran sejati. Manusia harus berkontemplasi untuk mengatasi hal-hal yang inderawi, yang merupakan penghambat besar bagi pembebasannya dari hidup dalam dimensi materi yang bersifat gelap (dan berakhir kepada kematian) menuju kepada hidup dalam dimensi roh yang membawa kepada terang (serta awal dari kekekalan).
Jejak pemikiran neoplatonisme dapat diamati dalam pengalaman mistik, yaitu pengalaman menyatu dengan Tuhan atau “jiwa kosmik”. Banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan dan Ciptaan, tetapi para ahli mistik tidak menemui pemisahan seperti itu. Mereka jutru mengalami rasa “penyatuan dengan Tuhan”. Ketika penyatuan itu terjadi, ahli mistik merasa dia “kehilangan dirinya”, dia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang dalam diri Tuhan, sebagaimana setitik atau sepercik air kehilangan dirinya ketika telah menyatu dalam samudera raya.
Tetapi pengalaman mistik itu tidak selalu datang sendiri. Ahli mistik harus mencari jalan “pencucian dan pencerahan” untuk bisa bertemu dengan Tuhan, melalui hidup sederhana dan berbagai teknik meditasi. Kecenderungan mistik tu diketemukan dalam semua agama besar di dunia. Dalam “agama” Jawa dikenallah konsep “manunggaling kawula lan Gusti”, yang jejaknya dalam sastra suluk Jawa digali dan diungkapkan bagi generasi masa kini dalam konteks filsafat dan pandangan keagamaan oleh Zoetmulder. (Zoetmulder SJ almarhum adalah Guru Besar di Fakultas Sastra UGM).
2. Zaman Patristik (Para Bapa Gereja)
Pemikiran filsafati para Bapa Gereja Katolik mengandung unsur neo-platonisme. Para Bapa Gereja berusaha keras untuk menyoroti pokok-pokok iman kristiani dari sudut pengertian dan akalbudi, memberinya infrastruktur rasional, dan dengan cara itu membuat pembelaan yang nalar atas aneka serangan. Pada dasarnya Allah menjadi pokok bahasan utama. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh Agustinus (354-430 M) bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang (“lumens”) dari Allah. Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa = “imago Dei” (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya.
“Tuhan, engkau lebih tinggi daripada yang paling tinggi dalam diriku, dan lebih dalam daripada yang paling dalam dalam batinku” — itu ungkapan Agustinus tentang pengalaman manusia mengenai transendensi dan imanensi Allah dalam satu rumusan. Dalam zaman ini pokok-pokok iman Kristiani dinyatakan dalam syahadat iman rasuli (teks “Aku Percaya” yang panjang). Didalamnya dituangkan rumusan ketat pokok-pokok iman, termasuk tentang trinitas — tentu saja dalam katagori pemikiran filsafati pada waktu itu dan dengan bahan dari Alkitab.
Agustinus menerima penafsiran metaforis atau figuratif atas kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa alam semesta dicipta creatio ex nihilo dalam 6 hari, dan pada hari ketujuh Allah beristirahat, sesudah melihat semua itu baik adanya. “Allah tidak ingin mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak relevan bagi keselamatan mereka”. Penciptaan bukanlah suatu peristiwa dalam waktu, namun waktu diciptakan bersama dengan dunia. Penciptaan adalah tindakan tanpa-dimensi-waktu yang melaluinya waktu menjadi ada, dan tindakan kontinu yang melaluinya Allah memelihara dunia. Istilah ex nihilo tidak berarti bahwa tiada itu merupakan semacam materi, seperti patung dibuat dari perunggu, namun hanya berarti “tidak terjadi dari sesuatu yang sudah ada”. Hakikat alam ciptaan ialah menerima seluruh Adanya dari yang lain, yaitu Sang Khalik. Alam ciptaan adalah ketergantungan dunia kepada Tuhan.
Disini tidak disinggung persoalan, apakah penciptaan itu terjadi dalam waktu, atau terjadi pada suatu ketika atau sudah ada sejak zaman kelanggengan. Para ahli filsafat pada umumnya sependapat bahwa a priori kita tidak dapat memastikan mana yang terjadi. — Menciptakan, sebagai tindakan aktif, dipandang dari sudut Tuhan, merupakan cetusan kehendakNya yang bersifat langgeng, karena segala sesuatu dalam Tuhan adalah langgeng. Tetapi dipandang dari sudut ciptaan, secara pasif, ketergantungan dari Tuhan, terciptanya itu dapat terjadi dalam arus waktu, atau di luarnya, sejak zaman kelanggengan. Jadi kelirulah jika dibayangkan bahwa Tuhan suatu ketika menciptakan alam dunia lalu mengundurkan Diri. Andaikata Tuhan seolah-olah beristirahat, maka buah ciptaan runtuh kembali ke nihilum, ke ketiadaan. Dunia terus menerus tergantung pada Tuhan (creatio dan sekaligus conservatio).
Ketika ditanya mengenai apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan dunia, Agustinus menjawab tidak ada artinya bertanya mengenai itu, karena tidak ada waktu sebelum penciptaan tersebut.
3. Zaman Skolastik
Saya membagi zaman skolastik dalam 2 tahapan (1) zaman skolastik timur, yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M, dan (2) zaman skolastik barat, abad 12 s/d 15 M, yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol).
Secara sederhana, dalam zaman Patristik, “filsafat teologi”, dengan tanda dapat dibaca sebagai “identik dengan”, “sama sebangun dengan”, “praktis tidak berbeda dengan”. Sementara dalam periode skolastik timur, terdapat berbagai interpretasi atas simbul dalam rumusan “filsafat teologi”, dalam periode skolastik barat tidak ada keraguan tentang makna simbul dalam rumusan “filsafat teologi”.
3.1. Periode skolastik timur
Abad ke-5 s/d abad ke-9 Eropa penuh kericuhan oleh perpindahan suku-suku bangsa dari utara. Pemikiran filsafati praktis tidak ada. Sebaliknya di Timur Tengah. Sejak hadirnya agama Islam dan munculnya peradaban baru yang bercorak Islam, ada perhatian besar kepada karya-karya filsuf Yunani. Itu bukan tanpa alasan. Pada awal abad 8 krisis kepemimpinan melanda Timur Tengah; amanat Nabi seperti terancam untuk menjadi pudar dan dalam situasi tak menentu itu dikalangan pada mukmin muncullah deretan panjang ahli pikir yang ingin berbuat sesuatu, berpangkal pada penggunaan akal dan azas-azas rasional, dan menyelamatkan Islam.
3.1.1. Mazhab Mu’tazila (725 – 850 – 1025 M) meminjam konsep-konsep pemikiran Yunani dan melihat akal sebagai pendukung iman. Pengakuan akal sebagai sumber pengetahuan (selain sumber wahyu) mendorong penelitian tentang manusia (kodrat, martabat dan tabiatnya). Mengikuti etika Aristoteles, karena akal membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk, maka berbuat baik adalah wajib. Pemimpin harus mewajibkan umatnya berbuat baik, masing-masing warga menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Daripadanya dijabarkan hubungan antar-manusia dan antar-bangsa, dan hak azasi (kemauan bebas) manusia. Pandangan ini cocok dengan Al Qur’an (Surah 3 ayat 110): “amr bil-a’ruf wa’l nahy an’al-munkar”.
Mazhab Mu’tazila ada pada pendapat bahwa Al Qur’an tercipta, artinya “dirumuskan oleh manusia, dengan latar belakang tempat dan zaman yang khusus”. Maka para Mu’tazila membaca Al Qur’an dengan kacamata rasionalis.
3.1.2. Mazhab falsafah pertama (830 – 1037 M), berhaluan neoplatonis dan aristoteles. Kata “falsafah” dipakai untuk mengartikan filsafat hellenis dalam kosakata bahasa Arab, ahli fikirnya disebut “faylasuf” (“falasifa – jamak). Empat tokol besar : al-Kindi (800-870 M), al-Razi (865 – 925 M), al-Farabi (872 – 950 M) dan Ibn-Sina (980 – 1037 M). Menggumuli masalah klasik “perbedaan antara dhat dan wujud” (“distinctio realis inter essentiam et existentiam”). Mereka ada pada pendapat, bahwa akal adalah pendamping iman. Al-Razi menolak ijazu’l Qur’an. Tulis al-Razi: “Tuhan memberi kepada manusia akal sebagai anugerah terbesar. Dengan akal kita mengetahui segala apa yang bermanfaat bagi kita dan yang dapat memperbaiki hidup kita. Berkat akal itu kita mengetahui hal yang tersembunyi dan apa yang akan terjadi. Dengan akal kita mengenal Tuhan, ilmu tertinggi bagi manusia. Akal itu menghakimi segala-galanya, dan tidak boleh dihakimi oleh sesuatu yang lain. Kelakuan kita harus ditentukan oleh akal semata-mata”.
3.1.3. Mazhab pemikiran ketiga disebut pula Kalam Ash’ari, berpusat di Bagdad, dan bercorak atomisme (yang dicetuskan pertama kali oleh Democritus, 370 sM), dan bergumul dengan soal sebab-musabab, kebebasan manusia, dan keesaan Tuhan. Para tokohnya: al-Ash’ari (873-935 M), al-Baqillani (?-1035), dan al-Ghazali (1065-1111 M).
Pandangan yang bercorak atomistis berpangkal pada pendapat bahwa peristiwa alam dan perbuatan manusia tidak lain daripada kesempatan atau tanda penciptaan langsung dari Tuhan. Daya alami serta hubungan wajib sebab-akibat dalam penciptaan itu tidak ada. Segala sesuatu terjadi oleh campur tangan al-Khaliq, “tiada yang tersembunyi daripadaNya seberat dharahpun” (Al-Qur’an Surat 34 ayat 3). Tiap kejadian terdiri atas deretan terputus-putus atom-atom, tanpa ada hubungan kausal. “Kami menyangkal bahwa makan dan minum menyebabkan kenyang”. Yang ada hanya monokausalitas mutlak illahi. Apabila tampak sesuatu akibat dari suatu tindakan, maka itu hanya semu, karena Allah menghendaki hal itu. Tuhan mahakuasa dan mendalangi setiap kegiatan insani. Manusia tidak memiliki kehendak bebas, yang bebas itu hanya semua saja. Manusia hanya boneka atau wayang dalam pergelaran semalam suntuk. “Bila manusia bertindak baik, itulah ditentukan Allah sesuai rahmatNya; bila dia berbuat jahat itu dikehendaki Allah sesuai keadilanNya”.
Dalam “Al-Tahafut al-filasifah” al-Ghazali membuat sistematisasi atas filsafat dalam 20 dalil dan membuat kajian dan bantahan yang keras atas tiap-tiap dalil itu. Empat dari 20 dalil diberi nilai kufurat. Ilmu sebagai pengetahuan sesuatu melalui sebab-sebabnya dimungkiri; seluruh pengetahuan ilmiah adalah sia-sia. Secara singkat “al-aql laysa lahu fi’l-shar’ majal” — untuk akal tiada tempat dalam agama.
3.1.4. Jauh dari pusat khilafat Abbasiyah di Timur Tengah, di kawasan yang dikenal sebagi Maghrib al-Aqsa (Barat jauh: Afrika barat laut, jazirah Andalusia, yaitu Spanyol sekarang) berkembanglah pusat Islam dalam kesenian, ilmu pengetahuan dan filsafat. Ibn Bajjah (1100-1138 M), Ibn Tufail (? – 1185), dan Ibn Rushd (“Averroes”) (1126-1198 M) merupakan 3 filsuf utama dalam perioda Filsafat Kedua (1100 – 1195 M) ini.
Ciri para filsuf ini pada umumnya menolak haluan anti-rasional Al Ghazali. Ibn Bajjah menegaskan adalah tugas seorang filsuf untuk meningkatkan martabat hidupnya dengan merenungkan kenyataan rohani sampai akhir hayat. Akal adalah hal yang paling berharga yang dikaruniakan Tuhan kepada abdiNya yang setia.
Ibn Tufayl terkenal oleh buku roman filsafi yang berjudul Risalat HAYY IBN YAQZAN fi asrar al -himah al-mashiriyyah.
Ibn Rushd dikenal oleh 3 kelompok karyanya: tafsir atas Aristoteles, karangan polemis (tentang karya-karya filsafat di kawasan timur) dan karangan apologetis (yang membela Islam dari ancaman dari dalam). Tahafut al-tahafut merupakan serangan frontal atas al-Tahafut al-filasifah al-Ghazali. Menolak pandangan al-Ghazali, ditegaskannya bahwa ilmu secara esensial adalah pengetahuan sesuatu berdasarkan sebabnya. Kita menanggapi hubungan sebab-akibat dengan pancaindera, dan memahaminya sebagai nyata dengan akal. Dengan akibat atau setiap perubahan diciptakan secara langsung oleh iradat ilahi tanpa pengantaraan sebab tercipta (wasa’ith), seluruh dunia dimerosotkan menjadi kaos dan irasional, tanpa tata-tertib, tanpa nizam atau inayah. Itu bertentangan dengan akal sehat dan menentang wahyu Qur’an, yang melukiskan dunia sebagai karya teratur Allah yang maha bijaksana.
Karya apologetisnya (2 buku yang ditulis pada tahun 1179 M) juga membela hak hidup filsafat dalam Islam, baik sebagai ilmu otonom, maupun sebagai ilmu bantu dalam teologi. Rushd melihat filsafat sebagai “sahabat al-shari’at w’ahat al-ruzdat”, teman teologi ibarat saudari sesusuan. Filsafat diwajibkan oleh al-Qur’an, agar manusia dapat memuji karya Tuhan di dunia ini (antara lain Surah 3 ayat 188, Surah 6 ayat 78, Surah 7 ayat 184, Surah 59 ayat 2, dan Surah 88 ayat 17) . Bila studi hukum (fiqh) tidak disertai studi filsafat, fiqh membuat budi sempit dan memalsukan agama.
Pengaruh Ibn Rushd sang filsuf dari Cordova itu terhadap alam pikiran Islam selanjutnya mungkin tidak seberapa, dia bahkan dikatakan hanya mewariskan “sekeranjang buku seberat sosok mayatnya”. Tetapi naskahnya populer di Eropa, khususnya di lingkungan kampus Universitas Paris, dan menyebar dari sana. Dengan karyanya, Aristoteles yang dijuluki “Sang Filsuf” diperkenalkan mutiara pemikirannya oleh Ibn Rushd yang oleh karena itu mendapat julukan “Sang Komentator”. Sebagai akibatnya, obor perenungan filsafati Yunani, seperti diarak melalui Timur Tengah ke Barat Jauh oleh para filsuf muslim (yang sering hidup menderita), dan dengan itu diestafetkan kepada para filsuf Eropa (Barat) dan ke seluruh dunia. Itulah sumbangan berharga para filsuf muslim dalam khazanah perenungan tak kunjung henti manusia dalam menemukan jati diri dan realitas di sekelilingnya.
3.2. Perioda skolastik Barat
Awal abad 13 ditandai dengan 3 hal penting: (1) berdirinya universitas-universitas, (2) munculnya ordo-ordo kebiaraan baru (Fransiskan dan Dominikan), dan (3) diketemukannya filsafat Yunani, melalui komentar Ibn Rushd, yang dipelajari dan dikritik dan diteliti dengan cermat oleh Thomas Aquinas (1225 – 1274 M). Tema filsafat perioda ini adalah hubungan akal budi dan iman, adanya dan hakekat Tuhan, antropologi, etika dan politik.
Otonomi filsafat yang bertumpu pada akal, yang merupakan salah satu kodrat manusia, dipertahankan. Menurut Thomas Aquinas, akal memampukan manusia mengenali kebenaran dalam kawasannya yang alamiah. Sebaliknya teologi memerlukan wahyu adikodrati. Berkat wahyu adikodrati itu teologi dapat mencapai kebenaran yang bersifat misteri dalam arti ketat (misalnya misteri tentang trinitas, inkarnasi, sakramen). Karena itu teologi memerlukan iman, karena hanya dapat dijelaskan dan diterima dalam iman. Dengan iman yang merupakan sikap penerimaan total manusia atas wibawa Allah, manusia mampu mencapai pengetahuan yang mengatasi akal. Meski misteri ini mengatasi akal, ia tidak bertentangan dengan akal. Meski akal tidak dapat menemukan (menguak) misteri, akal dapat meratakan jalan menuju misteri (“prae-ambulum fidei”).
Dengan ini Thomas Aquinas menegaskan adanya dua pengetahuan yang tidak perlu bertentangan, atau dipertentangkan, tetapi berdiri sendiri berdampingan: pengetahuan alamiah (yang berpangkal pada akal budi) dan pengetahuan iman (yang bersumber pada kitab suci dan tradisi keagamaan). Adalah Wihelm Dilthey (1839-1911) yang akhirnya membedakan dengan tegas “Geisteswissenschaften” = “human sciences” dari “Naturwisensshaften” = “natural sciences”, sementara Max Weber membedakan “erklaeren” sebagai ciri-ciri ilmu alam dari “verstehen” yang merupakan ciri khas ilmu-ilmu kemanusiaan.

PUISI UNTU IBU (TAK TERGANTI)

TAK TERGANTI
Puisi Nurhalimah Lubis

Ketika kupandang lekat pada sudut matamu
Tersimpan derita yang begitu mendalam
Aku tahu disana banyak tersimpan air mata untuk kami anakmu

Air mata yang telah kami lakukan
Ibu
Kamu selalu berharap kami anakmu yang kan jadi nomor satu
Namun sering kali kami melawan dan melalaikan perintahmu

Kami selalu membuatmu bersedih
Mulai sekarang aku bertekad untuk menghapusair matamu...
dan menggantinya dengan canda dan tawa

Terima kasih Ibu
Kau takkan pernah tergantikan di dalam hati kami anakmu

PUISI UNTUK IBU (JASA TAK TERLUPAKAN)

JASA TAK TERLUPAKAN
Puisi Patma

Ibu...
kau membingbingku selama satu tahun
kau begitu baik padakuwaluapun aku sukamarah-marah

Ibu....
kau begitu ceria dan rajin dari pada guru yang lain
ibu...
kau yang pintar,baik,ramah,cantik,dan sopan

Ibu...
kalau aku membuat salah tolong maafkan aku
karena aku cuma kesal karna aku selalu diejek

Ibu...
kalau aku lagi sedih kau menghibur aku
kalau aku lagi kesal kau menghiburku

Ibu... 
terimakasih atas jasa-jasamu jika aku 
masih sempat bertemu dengan ibu
aku sangat ingin memeluk ibu